Mengapa Berita Tentang Iklim Mendadak Ramai? Catatan Singkat Saya

Awal: catatan dari lapangan

Pertama kali saya merasakan perubahan nada pemberitaan iklim adalah pada musim hujan tahun 2015 di kampung halaman saya di Jawa Barat. Saya sedang meliput banjir lokal—air naik cepat, warga panik, listrik padam—dan saya ingat berpikir, “Ini bukan hanya masalah lokal.” Waktu itu saya masih muda sebagai jurnalis lapangan, berdiri di pinggir jalan lumpur sambil merekam suara warga yang gemetar. Ada satu ibu yang berkata, “Kita tak pernah melihat hujan seperti ini,” dan kalimat itu terus menghantui saya. Emosi saya sederhana: marah dan frustrasi karena narasi besar tentang iklim belum menyentuh cerita-cerita kecil seperti itu.

Meningkatnya frekuensi: dari data ke headline

Sejak pengalaman itu, saya mem-follow data ilmiah dan kebijakan secara intens. Dalam beberapa tahun terakhir—terutama sejak gelombang panas dan kebakaran hutan yang lebih besar di 2023-2024, ditambah laporan sintesis IPCC yang mengkristal menjadi headline—ruang berita berubah drastis. Editor yang dulu menganggap isu iklim “niche” kini memerintahkan desk untuk membuat paket cepat setiap kali ada badai besar atau laporan ekonomi tentang kerugian akibat cuaca ekstrem. Saya pernah duduk di ruang redaksi pada Januari 2024; ada momen hening ketika editor berkata, “Ini akan jadi feed utama minggu ini.” Itu bukan hanya karena sains; ini karena kerugian nyata—klaim asuransi melonjak, harga pangan bergerak, dan suara publik semakin menuntut jawaban.

Peran media sosial, ekonomi, dan politik

Salah satu hal yang membuat berita iklim tiba-tiba ramai adalah kombinasi platform digital dan kepentingan ekonomi. Di lapangan, saya melihat bagaimana potongan video singkat tentang banjir atau pulau-pulau kecil yang terancam viral dalam hitungan jam. Itu mempercepat narasi. Saya ingat sebuah video singkat dari Aceh yang saya tonton malam hari: potongan tiga puluh detik seorang nelayan menyebut kehilangan musim tangkapan. Dalam kepala saya ada alarm: “Ini bukan kebetulan.” Media sosial membuat momentum politik lebih cepat; politisi merespons, gugatan hukum bermunculan, dan perusahaan besar mengumumkan target net-zero demi reputasi. Seiring itu, newsroom mereset prioritas mereka karena pembaca juga menuntut solusi, bukan sekadar laporan bencana.

Ekonomi berita juga berperan. Ketika kerugian asuransi menjadi topik hangat dan investor mulai menilai risiko iklim pada neraca perusahaan, wartawan bisnis mulai tertarik. Saya pernah diwawancarai oleh desk ekonomi soal bagaimana nilai properti di zona banjir turun drastis—percakapan yang dulu dianggap “lingkungan” kini menjadi isu finansial yang layak dimuat setiap hari.

Proses: bagaimana saya menulis ulang cara meliput

Saya belajar menulis berbeda. Alih-alih hanya menulis tentang suhu atau grafik, saya mulai menautkan cerita personal, data, dan solusi praktis. Contoh: saat meliput kebakaran hutan di Kalimantan pada Agustus 2023, saya tidak berhenti di foto asap. Saya menginterview petani, menyisir data kualitas udara, dan memanggil akademisi untuk konteks. Saya menulis: apa artinya bagi kesehatan anak, bagaimana angka rawat inap berubah, dan apa kebijakan lokal yang gagal. Hasilnya jelas—artikel yang menggabungkan human interest, angka, dan langkah konkrit lebih mudah dibagikan dan lebih sering dikutip pembuat kebijakan.

Terkadang saya juga harus menjaga diri. Membawa kamera ke lokasi yang penuh asap membuat saya bergidik. Saya ingat duduk selama istirahat, membuka ponsel, dan tiba-tiba tersenyum kosong ketika melihat iklan produk perawatan wajah; impuls kecil untuk merasa normal membawa saya membuka getfreshface—bukan soal branding, tapi momen pribadi yang mengingatkan saya bahwa jurnalisme juga manusiawi. Itu adalah pengingat: peliputan yang bagus memerlukan kepala dingin dan tubuh yang terjaga.

Hasil, refleksi, dan langkah ke depan

Jadi mengapa berita iklim mendadak ramai? Karena faktor-faktor itu bertemu: bukti ilmiah semakin tak terbantahkan, dampaknya ekonomi terasa nyata, platform digital mempercepat penyebaran, dan ada tekanan politik serta hukum. Dari pengalaman saya, ada pelajaran praktis: berikan konteks, hubungkan data dengan kehidupan sehari-hari, dan ajak pembaca untuk melakukan hal konkret—bukan hanya panik. Saya mulai menutup setiap tulisan dengan satu rekomendasi tindakan nyata, sekecil apa pun, karena pembaca butuh kejelasan.

Refleksi terakhir saya sederhana. Peningkatan perhatian ini adalah peluang—untuk akuntabilitas publik, inovasi solusi, dan literasi iklim yang lebih baik. Tapi ada risiko: kepanikan, kebijakan reaktif, dan informasi terpotong yang jadi sensasi semata. Sebagai penulis yang telah melewati banjir, konferensi, dan malam-malam panjang mengejar narasumber, tugas kita adalah menahan laju kebisingan itu dengan narasi yang matang, manusiawi, dan berguna. Kalau Anda bertanya apa yang bisa dilakukan sekarang: baca lebih dalam, pilih sumber yang kredibel, dan tuntut kebijakan yang memprioritaskan pencegahan—bukan hanya penanganan setelah bencana.